Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

08 May 2016

Unknown

Menjadikan 4 Sahabat Rasulullah Ini Sebagai Model


Alangkah nikmatnya seandainya kita semua umat muslim mendapat garansi dari Allah SWT dan Rasulullah SAW dapat masuk ke surga Allah dari pintu mana saja. Sebagaimana para sahabat Rasulullah SAW yang sudah dijamin masuk surga. Dengan meneladani mereka mungkin dapat memperbesar peluang kita untuk masuk surga. Semoga dengan menela’ah karakter-karekter mereka kita dapat melakukan modeling sehingga peluang kita akan lebih dekat dengan surga. Amin..

Berikut sedikit ulasan tentang 4 Sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga.


1. Abu Bakar As-Siddiq (ra)

Abu Bakar As-Sidiq (ra) merupakan sahabat yang paling dekat dengan rosululloh. Hal ini ditunjukan ketika rosul sakit, rosul memerintahkan semua pintu menuju masjid harus ditutup kecuali pintu Abu Bakar (ra). Rosul bersabda: "Aku tidak menemukan satu yang terbaik di antara sahabat-sahabatku selain Abu Bakar (ra). Namun hubungan saya dengan Abu Bakar (ra) adalah bahwa seorang teman yang sangat dekat, persaudaraan Islam dan iman sampai Allah mengangkat kita bersama-sama."Beliau merupakan sosok sahabat yang dianugerahi oleh allah dengan memiliki kelembutan hati. Hal ini dapat dilihat dari perkataan rosululloh ketika rosulloh mencoba mengajak orang-orang mekah untuk masuk islam namun mereka semua langsung menolak, namun ketika rosul mengajak abu bakar, beliau langsung menerima dan mengimani ajaran rosulsehingga abu bakar langsunng bersyahadat untuk masuk islam.

Akhlak yang perlu kita teladani dari abu bakar adalah ketika Abu Bakar menjadi khilafah setelah Rasulullah. Abu bakar merupakan sosok pemimpin yang sangat menjaga amanah dan sangat menjaga kebersihan hati sekaligus hartanya. Hal ini ditunjukan dengan peristiwa ketika beliau berjalan di pasar madinah dengan hanya memakai jubah yang sangat sederhana yang terbuat dari kulit kambung sehingga keluarganya menegurnya. Namun Abu Bakar berkata kepada keluarganya Apakah kamu bermaksud agar aku menjadi seorang raja yang angkuh di zaman Jahiliyah dan angkuh di zaman Islam, begitu mulia akhlak beliau.

Kisah lain yang patut kita teladani dari beliau adalah ketika Abu Bakar hendak meninggal, ia berkata kepada putrinya Aisyah: “Hai Aisyah, unta yang kita minum susunya, juga bejana tempat kita mencelupkan pakaian, serta baju qathifah yang saya pakai, semuanya hanya dapat kita gunakan selama saya berkuasa. Dan bila aku meninggal, seluruhnya harus dikembalikan kepada Umar.” Maka ketika Abu bakar meninggal, Aisyah mengembalikan semua barang tersebut kepada Umar bin Khaththab. Kisah yang lainnya, tatkala seorang wanita kampung bernama Unaisar berkata: “Hai Abu Bakar, apakah engkau masih dapat menolong kami memerah susu kambing seperti sebelum menjadi khalifah?” Jawab Abu Bakar: “Insya Allah aku akan tetap bersedia menolong kamu.” Demikianlah sosok Abu Bakar sebagai kepala negara yang telah berhasil menaklukkan dua kerajaan besar (Syiria dan Persia) masih menyediakan waktu untuk memeraskan susu kambing untuk para wanita sekampungnya.

Keteladanan yang beliau lakukan menunjukan bahwa beliau adalah manusia yang sangat matang kepribadianya,, beliau memiliki tipe kepribadian yang menggambarkan perpaduan antara peramah (outgoing) dan beliau termasuk insan yng memiliki people oriented (berorientasi terhadap orang) yakni dengan menolong siapa saja yang membutuhkan, dimensi ini menunjukan bahwa menurut teori William marston abu bakar termasuk bertipe Tipe I (Inspiring) yang memiliki ciri kecenderungan bersahabat dan komunikasi informal, yang menunjukan beliau memiliki tipe I adalah mempunyai motivasi yang lebih apabila ada persetujuan dari orang lain, hal ini ditunjukan dengan abu bakar sangat termotivasi ketika Abu Bakar sangat dekat dengan rosul, hal lain yang menunjukan kelebihan abu bakar dengan tipe I adalah beliau memiliki ciri manusia yang bersemangat (inspiring), berpengaruh (influencing), penting (important), interaktif (interactive), mengesankan (impressive), berminat pada hubungan dengan orang lain (interrested in people)kea rah dimensi gaya hubungan dengan manusia, hal ini ditunjukan ketika masa khalifahnya belaiu mampu menaklukan kerajaan Persia dan Andalusia.

Abu Bakar merupakan sosok muslim yang ideal setelah Rasulullah, dalam diri abu bakar memiliki kepribadian seorang muslim yang sangat majure (matang) dengan memiliki cirri-ciri antara lain: Benar aqidahnya (salimul aqidah), Benar ibadahnya (shahihul Ibadah), Kokoh akhlaknya (matinul khuluk), Berwawasan luas (mutsaqaful fikr), Kuat fisiknya (qawwiyul Jism), Mandiri (qadirun 'alakisbi), Bijaksana dalam memelihara waktu (harisun 'alawaqtihi), Teratur dalam segala urusan (munadhomu fi syu'unihi), Bersungguh-sungguh atas dirinya (mujahidu linafsihi), Bermanfaat bagi orang lain (nafi'ul lighirihi).

2. Umar Bin Khatab ra.

Umar bin kattab merupakan salah satu tokoh yang disegani oleh kaum quraisy juga kaum muslimin.. dikalangan kaum quraisy dan muslimin umar dikenal orang yang sangat mudah marah dan termasuk manusia dengan dominasi berkepribadian choleris yang memiliki tipikal kurang bisa mengontrol emosinya. Dikisahkan dalam suatu hadist oleh bukhori yang menunjukan sangat diseganiny umar

”Wahai Umar demi Dzat yang menguasai jiwaku (Allah), tidak pernah syaitan itu mau melewati jalan yang biasa engkau lewati, tetapi ia melewati jalan yang biasa dilewati oleh orang selainmu.” (HR Bukhari dari Saad bin Waqqash .ra).

Kisahkan lain yang menunjukan Umar adalah orang yang pemarah adalah ketika awal mula proses umar masuk islam dia pernah memukul adik perempuannya dan adik iparnya sendiri sampai berdarah. Namun perubahan pribadi menjadi insan yang dapat menempatkan emosi secara tepat setelah beliau mengenal islam dan bersyahadat di depan rosul. Pribadi islami inilah yang menjadikan beliau menggantikan khalifah abu bakar assidiq ra.

Umar telah membuktikan bahwa beliau memang seorang khalifah hasil tarbiyah langsung Rasulullah S.A.W dengan mewarisi semangat untuk mewarnai islam ke seluruh dunia dengan dibuktikanya dengan berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tipoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo. Jasa yang sangat berharga pada masa kekhalifanya adalah beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al-qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum khamr (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya. Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati.

Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Tidak seperti di jaman yang katanya modern ini, kebanyakan para pemimpin malah bersikap sebaliknya bukannya berusaha melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakatnya tetapi justru berusaha melayani nafsu dan perutnya serta memenuhi kantongnya,

Dalam satu riwayat Qatadah berkata, ”Pada suatu hari Umar bin Khattab .ra memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, ”Umar bin Khattab .ra berkata, ”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.” Beliaulah yang lapar duluan dan yang paling terakhir kenyangnya Beliau berjanji tidak akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya… Sungguh tauladan yang patut dicontoh oleh umat Islam sekarang ini terlebih yang merasa pemimpin masyarakat di jaman sekarang ini….

3. Usman Bin Affan ra.

Utsman bin affan Al-Amawi Al-Quarisyi adalah keturunan dari Bani Umayyah. Lahir pada tahun keenam tahun Gajah. Kira-kira lima tahun lebih muda dari Rasullulah SAW. Nama panggilannya Abu Abdullah dan gelarnya Dzunnurrain (yang punya dua cahaya). Sebab digelari Dzunnuraian karena Rasulullah menikahkan dua putrinya untuk Utsman; Roqqoyah dan Ummu Kultsum. Ketika Ummu Kultsum wafat, Rasulullah berkata; “Sekiranya kami punya anak perempuan yang ketiga, niscaya aku nikahkan denganmu.” Dari pernikahannya dengan Roqoyyah lahirlah anak laki-laki. Tapi tidak sampai besar anaknya meninggal ketika berumur 6 tahun pada tahun 4 Hijriah.

Berikut adalah karakter yang dimiliki oleh ustman bin affan ra

Softness (Kelembutan)

Keunikan Utsman bin Affan terletak pada kelembutan dan sifat pemalunya. Beliau adalah sahabat yang sangat lembut dan pemalu. Meskipun, tentu saja dapat bersikap garang. Karena beliau juga mengikuti hampir seluruh peperangan bersama Nabi. Kecuali perang Badar, karena ia sedang merawat istrinya, Ruqayyah yang sedang sakit.Suatu hari Rasulullah tidur terlentang, sedang kedua betisnya terbuka. Abu Bakar dan Utsman meminta masuk dan beliau tetap membiarkan betisnya terbuka. Tatkala Utsman meminta izin masuk, beliau langsung menutup betisnya dan berkata, “Bagaimana aku tidak merasa malu dengan orang yang malaikat saja malu kepadanya” (HR Muslim). Rasulullah bersabda, “Umatku yang paling pengasih adalah Abu Bakar, yang paling keras menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman …”(HR Ahmad & HR Tirmidzi)

Syaikh Khalid Muhammad Khalid berkata, “Ustman memiliki banyak watak yang penuh dengan kebaikan dan harga diri. Dari pribadinya memancar bau semerbak kasih sayang dimanapun anda menjumpainya.” “Kasih sayang yang tersebar dalam kehidupannya seperti air mengalir dalam batang yang hijau. ….kita dapati kasih sayangnya menjadi pelita seluruh hidupnya.” “Kasih sayang telah meresap dalam hdup dan tingkah lakunya. ….kesetiannya terhadap kasih sayang jauh lebih kuat dibanding hidup tanpa mendapatkan tempat di barisan terdepan dari orang-orang yang penyayang dan shalih.” “Ia seorang yang taat kepada Allah dan penyayang. Ia suka berpuasa di siang hari, sholat di malam hari, dan hatinya memancarkan kasih sayang.” Utsman berkata terhadap dirinya, “Aku tidak pernah berzina maupun mencuri, baik di masa jahiliyah maupun di masa Islam.” Adakah diantara kita yang memiliki sejarah yang begitu bersih dan jernih sebagaimana Utsman?

“ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az Zumar ayat 9)

Siapakah yang dimaksud dengan ayat tersebut. Abdullah bin Umar berkata, “Ia adalah Utsman.” Sikap lembutnya juga ditunjukkan oleh beliau dalam membantu kesulitan kaum muslimin.

Charitbale (Dermawan)

Utsman adalah sosok yang sangat dermawan. Ia pernah menanggung semua perlengkapan separuh dari pasukan kaum muslimin dalam perang ‘asrah. Saat itu, ia mendermakan 300 ekor onta dan 50 ekor kuda lengkap dengan segala peralatannya. Kemudian ia datang membawa seribu dinar dan memberikannya di hadapan Rasulullah. (HR Tirmidzi). Diantara kemurahan hati dan sedekah yang diberikannya di jalan Allah SWT yaitu ketika Rasulullah menyiapkan tentara dalam perang Tabuk. Imam Ahmad meriwayatkan, “Bahwa Utsman datang dengan membawa 1000 dinar dibajunya lalu menuangkannya di kamar Rasulullah SAW. Lalu Nabi bersabda, “Utsman tidak akan miskin karena melakukan hal ini.”

Ibnu Syihab Zuhri meriwayatkan bahwa pada perang Tabuk Utsman membawa lebih dari 940 onta, kemudian membawa 60 kuda untuk menggenapinya menjadi seribu.” Kini berarti setara dengan 1000 mobil. Ia juga pernah membeli sumur Raumah dari seorang Yahudi. Setelah itu ia mewakafkannya. Kemudian kaum muslimin memanfaatkannya sebagai sumber air minum. Menurut riwayat Al Baghawi ia membeli sumur tersebut dengan harga 35.000 dirham. Ibnu Abbas berkata, “Ketika orang-orang mengalami paceklik di masa pemerintahan Abu Bakar. Abu Bakar berkata kepada mereka insya Allah besok sore kalian dibebaskan Allah dari kesulitan. Besok paginya datang kafilah Utsman. Para pedagang datang kepada utsman dan meminta kepadanya supaya menjual barang-barang tersebut kepada mereka. Utsman bertanya kepada mereka, “Berapa keuntungan yang akan kalian berikan kepadaku?” Mereka menjawab, “Sepuluh dengan dua belas.” Utsman berkata, “Saya telah mendapat lebih dari itu.” Pedagang-pedagang tersebut bertanya, “Siapa yang menambahimu sedangkan kami adalah pedagang-pedagang Madinah.” Utsman menjawab, “Ia adalah Allah, Dia menambahiku setiap dirham dengan sepuluh dirham, maka apakah kalian bisa menambahiku? ” Pedagang-pedagang tersebut berlalu dan Utsman berkata, “Yaa Allah kuberikan barang-barang ini kepada orang-orang miskin di Madinah tanpa bayar dan tanpa perhitungan. ”

Kesabaran (Patient)

Utsman RA adalah sahabat yang sangat-sangat sabar. Beliau menghadapi berbagai cobaan dan ujian dengan tabah. Ketika beliau masuk Islam, pamannya Al Hakam bin Al ‘Ash bin Umayyah menangkapnya dan mengikatnya dengan tali. Lalu Hakam berkata, “Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu dan kamu berganti dengan agama yang baru? Demi Tuhan saya tidak akan melepaskanmu dari ikatan ini hingga kamu meninggalkan agama yang kamu anut sekarang juga.” Utsman berkata, “Demi Allah! Saya tidak akan meninggalkan agama ini untuk selamanya, dan saya tidak akan memisahkan diri darinya! Melihat keteguhan dan kesabaran Utsman, akhirnya Al hakam meninggalkan Utsan RA. Kesabaran dan ketabahan lainnya adalah tatkala terjadi huru hara dalam pemerintahannya yang dipicu dan diprovokasi oleh orang-orang khawarij. Beliau juga tetap dalam kesabaran. Padahal jika mau, pada saat itu beliau dapat minta bantuan sahabat Anshar dan Muhajirin untuk mengawalnya. Atau dengan mengasingkan diri ke luar daerah. Atau dengan melepaskan kekhalifahan. Namun demi menjaga persatuan umat Utsman rela dirinya dijadikan sasaran pembunuhan oleh kaum durjana. Maka benar sabda Rasulullah SAW, “Dia (Utsman) akan dibunuh dengan cara yang zhalim pada suatu peristiwa.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar). Dalam riwayat Ibnu Asakir dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah bersabda, “Utsman datang kepadaku, dan pada saat itu ada seorang malaikat bersamaku, dia berkata, “Dia akan mati syahid dan akan dibunuh oleh kaumnya…” Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdurrahman bin Mahdi dia berkata, “Dua sifat yang dimiliki oleh Utsman dan tidak dimiliki Abu Bakar maupun Umar, yaitu kesabarannya saat dikepung hingga ia terbunuh serta penghimpunan mushaf Alqur’an dalam bentuknya sekarang.

Leadership

Meskipun tidak seperti Abu Bakar dan Umar, namun Utsman juga memiliki watak kepemimpinan yang tidak diragukan lagi. Buktinya hampir seluruh sahabat sepakat memba’iat Ustman sebagai khalifah pengganti Umar. Pasca terbunuhnya khalifah Umar, Abdurrahman bin ‘Auf bertanya kepada kaum muhajirin dan anshar, “Menurut anda siapa yang patut menjadi khalifah setelah Umar?” Semua orang yang ditanya dan diminta pendapatnya selalu mengatakan, “Utsman.”. Maka segera ia membai’atnya dan diikuti bai’at oleh masyarakat secara masal. Ibnu Mas’ud berkata, “Kami membai’at orang terbaik diantara kami.” Dalam riwayat lain dinyatakan, “Kami mengangkat orang terbaik (sebagai pemimpin) dan kami sungguh-sungguh. ”Bukti lainnya adalah dimasa Utsman banyak wilayah dan daerah baru yang ditaklukkannya. Sehingga wilayah Islam membentang jauh dari Timur hingga ke Barat. Terbentang dari Sind di sebeah Timur, Kaukasus di sebelah utara, Afrika dan pulau-pulau Mediteranian di sebelah Barat dan Habasyah (Ethiopia) di sebelah selatan. Ibnu Katsier berkata, “Semua itu benar-benar terbukti dan terjadi pada masa Utsman RA.” Yang termasuk negeri-negeri tersebut adalah Hamazan, Rayy, Safur, Arjan, Asfahan, Astakhar, Jurjan, Kabul, Sijistan, Tabristan, Azarbaijan, Armenia, Afrika, Ethiopia, Siprus, Malta dll. Utsman pula yang membentuk armada angkatan laut Islam untuk pertama kalinya. Sebelumnya Umar menolak hal itu karena khawatir terhadap tentara muslim yang belum berpengalaman perang di laut. Utsman mebentuk armada laut dan memperoleh kemenangan besar dalam perang di atas kapal laut. Dan menyerang armada-armada yang sombong (armada laut Byzantium) dan kemudian menaklukkan pulau-pulau di Mediterania.

4. Ali Bin Abi Thalib ra.

Ali merupakan salah satu sahabat Rasulullah saw yang mulia. Kita akan berusaha memetik beberapa pelajaran penting dan ibroh dari perjalanan kehidupannya. Shahabat yang satu ini lahir pada tahun kedua puluh sebelum kenabian, tumbuh berkembang dalam didikan rumah tangga kenabian, dialah orang pertama yang masuk Islam dari golongan anak keci;. Nabi saw bersabda kepadanya: Tidakkah engkau rela jika kedudukan dirimu terhadapa diriku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa as, hanya sanya tidak ada nabi setelahku”.

Ali memiliki karakteristik antara lain :

Fisik

Ali Bin Abi Thalib ra. adalah seorang dengan perawakan sedang, antara tinggi dan pendek. Perutnya agak menonjol. Pundaknya lebar. Kedua lengannya berotot, lehernya berisi. Bulu jenggotnya lebat. Kepalanya botak, dan berambut di pinggir kepala. Matanya besar, Wajahnya tampan. Kulitnya amat gelap. Postur tubuhnya tegap dan proporsional. Bangun tubuhnya kokoh, seakan-akan dari baja. Berisi. Jika berjalan seakan-akan sedang turun dari ketinggian, seperti berjalannya Rasulullah Saw. Seperti dideskripsikan dalam kitab Usudul Ghaabah fi Ma'rifat ash Shahabah: adalah Ali bin Abi Thalib bermata besar, berkulit hitam, berotot kokoh, berbadan besar, berjenggot lebat, bertubuh pendek, amat fasih dalam berbicara, berani, pantang mundur, dermawan, pemaaf, lembut dalam berbicara, dan halus perasaannya. Jika ia dipanggil untuk berduel dengan musuh di medan perang, ia segera maju tanpa gentar, mengambil perlengkapan perangnya, dan menghunuskan pedangnya. Untuk kemudian menjatuhkan musuhnya dalam beberapa langkah. Karena sesekor singa, ketika ia maju untuk menerkam mangsanya, ia bergerak dengan cepat bagai kilat, dan menyergap dengan tangkas, untuk kemudian membuat mangsa tak berkutik.

Leadership

Ali bin abi thalib memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda. Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun.

Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut. (pm) (pkspiyungan.org)

22 October 2015

Unknown

Melihat Kebaikan

Melihat Kebaikan
Ilustrasi
Bagaimanakah perasaan kita ketika melihat kebaikan? Apakah akan bahagia ataukah akan bersedih? Lumrah manusia ketika melihat kebaikan dia akan berbahagia. Tak ada satu pun kebaikan yang membuat manusia bersedih. Namun, sangat disayangkan kebanyakan manusia lebih senang melihat kebaikan daripada berbuat kebaikan.

Jika dengan melihat kebaikan, kita akan merasakan kebahagiaan. Apalagi jika berbuat kebaikan tentu akan lebih lagi kebahagiaan yang akan dirasakan. Kebaikan itu indah sehingga enak untuk dipandang. Kebaikan itu pun mudah sehingga ringan untuk dilakukan.

Selama ini mungkin kita hanya berada pada posisi melihat kebaikan belum memasuki posisi berbuat kebaikan. Contoh mudahnya, ketika kita melihat seorang anak membuang sampah pada tempatnya. Kita akan merasakan bahagia melihat kejadian tersebut. Namun, pada diri kita kebiasaan membuang sampah tersebut belum tertanam sehingga belum bisa melakukannya laksana anak kecil yang dididik sejak dini.

Lihatlah kebaikan agar kita termotivasi untuk selalu berbuat baik. Dengan melihat kebaikan setidaknya menutup kemungkinan mata ini tidak melihat keburukan. Tapi, jika mata ini tak diperlihatkan pada kebaikan maka keburukanlah yang akan dilihatnya.

Diluar sana banyak orang berlomba-lomba berbuat kebaikan sebab mereka tahu dengan kebaikan itu mereka akan memperoleh kebahagiaan yang mereka cari selama ini. Kebahagiaan yang muncul pada kebaikan akan sangat berbeda dengan kebahagiaan yang muncul karena keburukan. Kebahagiaan yang muncul karena keburukan hanya beberapa saat, tak lama kemudian kebahagiaan itu akan pergi dari keburukan. Sedangkan kebahagiaan yang muncul karena kebaikan, ia akan bertahan lama. Sebab, sahabat sejati dari kebahagiaan itu adalah kebaikan. Mereka berdua akan senantiasa bersama dan bergandengan tangan tatkala mereka menghinggapi seorang insan.

Kebahagiaan ada disaat kebaikan ada dan kebaikan pun ada dikala kebahagiaan ada. Begitu pula dengan keburukan, kesedihan ada dikala keburukan ada dan keburukan ada disaat kesedihan ada.

Kita sebagai manusia dianjurkan untuk selalu optimis untuk melakukan kebaikan karena kebaikan itulah yang akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Selama ini kita tak menyadari bahwa kebahagiaan itu ada pada kebaikan. Oleh sebab, tak menyadari itu kita mencari kebahagiaan pada keburukan.

Setelah mencari kebahagian pada keburukan, kebahagiaan pun diperoleh sesaat, sesaat kemudian kebahagiaan kabur. Kebahagian tak akan pernah betah berlama-lama dengan keburukan. Manusia kehilangan kebahagiaan dari keburukan kemudian berbuat buruk kembali demi mendapatkan kebahagiaan, memperoleh kebahagiaan sesaat, hilang. Berbuat keburukan kembali. Berputar terus menerus hingga hari akhir.

Sungguh bahagia melihat orang yang berbuat kebaikan. Dengan kebaikan itu dia memperoleh kebahagiaan. Karena tahu kebaikan mendatangkan kebahagiaan kemudian dia berbuat kebaikan kembali agar kebahagiaan menghampiri kembali. Begitu terus-menerus berputar tak terhenti.

Kebahagiaan itu dekat. Ada di dalam diri masing-masing manusia. Dengan berbuat baik. Kebahagiaan akan muncul secara tak disadari maupun disadari.

Lihatlah kebaikan orang lain, jika diri ini belum mampu untuk berbuat kebaikan. Pada saat melihat kebaikan orang lain. Kita belajar untuk berbuat kebaikan pula agar tertular untuk berbuat kebaikan.

Mata ini sebagai sarana untuk memperoleh contoh yang baik dari berbuat kebaikan. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk melihat hal-hal yang baik agar hal-hal yang baik itu akan dilakukan. Dari mata yang terbiasa melihat kebaikan, hati dan otak pun akan terprogram untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan. Sebaliknya, jika mata ini terbiasa melihat keburukan maka keburukan pun terprogram pada otak dan hati manusia.

“Sinar yang paling berbahaya”, ucap seorang guru besar Farmasi menjelaskan “adalah sinar mata”. Dari sinar mata itulah yang akan memberikan bekas pada hati dan otak manusia.

Biasakanlah mata ini untuk melihat kebaikan agar bekas kebaikan itu berbekas dan lama-kelamaan akan mengendap di dalam otak dan hati sehingga endapan itu akan menggerakkan hati dan otak pemiliknya untuk berbuat kebaikan pula.
Apa yang kita lihat itulah yang sering kita lakukan. Jika kebaikan sering dilihat maka kebaikan pula yang akan diperbuat. Jika keburukan lebih banyak dilihat maka keburukan pula yang lebih sering dilakukan.

Kebaikankah atau keburukankah yang akan dilihat? Jika kita mengetahui bahwa kebaikan akan berujung pada kebahagiaan dan keburukan akan bermuara pada kesedihan. Tentu, kita akan memilih kebaikan. Kebaikan yang dilihat serta kebaikan yang dilakukan.

Tak cukup hanya sekedar melihat kebaikan. Alangkah indahnya, jika kebaikan yang dilihat kemudian dilakukan sebagai bentuk amalan ataupun rutinitas sehari-hari. Rutinitas kebaikan itulah yang akan menjadikan diri manusia bahagia melalui hari-hari dengan berbagai persoalan yang hilir mudik menyapa.

Lihatlah kebaikan sebagai wujud rasa syukur manusia yang telah dikaruniakan mata untuk dipergunakan pada hal-hal yang baik. Bukan sebaliknya, pada hal-hal yang buruk itu sama halnya mengingkari mata yang telah diberikan dengan sempurna kepada setiap manusia.

Bermula dari mata kebaikan masuk, kemudian perlahan-lahan akan menempel di otak dan hati. Selanjutnya, karena tempelan kebaikan itu manusia akan bergerak untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang akan memberikan kebahagiaan bagi dirinya. Kebahagiaan yang sangat diidam-idamkan oleh setiap insan yakni kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. [Sumber: fimadani]

30 May 2015

Unknown

Jika di Waktu Pagi dalam Hati hanya ada Dunia, Ini yang Akan Dirasakan

Jika di Waktu Pagi dalam Hati hanya ada Dunia, Ini yang Akan Anda Rasakan
Pagi hari
Waktu pagi merupakan waktu yang paling berkah. Mengapa demikian? Karena di pagi hari, merupakan waktu untuk memulai aktivitas. Dan aktivitas di waktu-waktu lain akan berjalan dengan lancar apabila waktu pagi ini dilewati dengan kelancaran pula. Jadi, niat yang baik di waktu pagi menjadi penentu kebaikan di waktu-waktu lainnya.

Namun, tak sedikit orang yang waktu paginya hanya memikirkan kehidupan dunia. Ia tidak menyerahkan segala urusan-Nya hanya kepada Allah. Seolah-olah ia merasa akan hidup selamanya di dunia. Padahal, tahukah Anda, bahwa jika di waktu pagi telah ada di hatinya tentang urusan dunia, maka ia akan merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan di waktu-waktu lainnya.

Sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Barangsiapa yang berada di waktu pagi sedangkan dunia merupakan cita-citanya yang paling utama, maka Allah Ta’ala akan menetapkan dalam hatinya tiga macam,

1. Kerisauan yang tidak akan terputus-putus.
2. Kesibukan yang tidak aka nada waktu luang selama-lamanya.
3. Rasa kurang yang tidak akan ada ujungnya selama-lamanya.”

Itulah yang akan dirasakan oleh orang-orang yang memikirkan kehidupan dunia di waktu pagi. Masih pagi saja pikirannya sudah dunia, tentu akan menganggu pikirannya. Karena, kehidupan dunia memang terlihat indah, namun banyak jurang yang membawa kenestapaan. Maka dari itu, pikirkanlah yang baik di waktu pagi Anda, agar keselamatan di waktu kemudian senantiasa menyertai Anda. Wallahu ‘alam.

Sumber: Terjemah Tanbihul Ghafilin Peringatan bagi Orang-orang yang Lupa 1/Karya: Abu Laits as Samarqandi/Penerbit: PT Karya Toha Putra Semarang/islampos.com

26 May 2015

Unknown

Banyak Halilintar Tanda Kiamat Semakin Dekat

Banyak Halilintar Tanda Kiamat Semakin Dekat
ilustrasi
Ketika hujan turun dengan deras, kerapkali halilintar banyak menyambar. Hal ini yang menyebabkan berteduh dibawah pohon hendaknya dihindari, karena halilintar akan lebih cepat menyambar terhadap pohon.

Ketika hari menjelang kiamat nanti, akan lebih banyak halilintar yang menyambar adalah salah satu tandanya. Hal ini sesuai dengan penuturan Abu Sa’id al – Khudri yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Menjelang Kiamat, akan banyak halilintar, sampai – sampai ketika seseorang mendatangi satu kaum ia akan bertanya, ‘Siapakah di antara kalian yang kemarin meninggal dunia karena halilintar? Mereka menjawab, ‘Fulan, fulan, dan fulan meninggal dunia karena tersambar halilintar’.”

Halilintar adalah sambaran listrik raksasa yang datang dari langit disertai kilat dan petir yang menyambar.

Allah berfirman pada salah satu ayatnya mengenai binasanya Kaum Tsamud dengan petir, “Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk. Mereka pun disambar petir sebagai azab yang menghinakan, disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Fushshilat : 17).

Kemudian Allah swt. berfirman pada ayatnya yang lain yang berbunyi : “Jika mereka berpaling maka katakanlah, ‘Aku telah memperingatkan kalian dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum  ‘Ad dan Tsamud.” (QS. Fushshilat : 13).

Sebegitu dahsyatnya kekuatan petir hingga Allah menamakannya sebagai “Kejadian Luar Biasa” hal ini terdapat pada QS. Al – Haqqah : 5 “Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa.” (Sumber : Kiamat Sudah Dekat? Penulis : Dr. Muhammad al-‘Areifi, Maret 2011, Qisthi Press, Jakarta/islampos.com)

25 May 2015

Unknown

Berkaca pada Buah Semangka

Berkaca pada Buah Semangka
Buah Semangka

Merenungi diri melalui berkaca pada buah semangka. Mengambil hikmah dari buah semangka. Bagaimana maksudnya?

Buah semangka yang sudah matang, berwarna hijau dan di dalamnya berwarna merah. Meski sekarng memang sudah ada semangka yang isinya  berwarna kuning, namun ketika seseorang diingatkan apa itu semangka, sebagian besar berpikir pada buah semangka yang isinya merah.

Sebagai manusia biasa, pastilah kita pernah dihinggapi yang namannya rasa marah bukan. Dan sangat amat sulit sekali bagi kita dalam mengendalikan amarah, entah dari sikap, ucapan atau bahkan ekspresi wajah terkadang selalu nampak dan kita sulit untuk menyembunyikannya. Suatu tantangan bagi kita untuk bisa menyembunyikan amarah kita pada orang lain, tapi percayalah dengan kita memohon perlindungan dan senantiasa berdzikir untuk memohon ketenangan jiwa pada Sang Illahi, Insya Allah kita senantiasa diberi ketegaran dan ketenangan dalam menghadapi masalah termasuk menyembunyikan rasa amarah kita pada orang lain.

Beberapa cara yang dapat kita lakukan ketika marah, jika sering merasa emosi (marah) dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika dalam duduk masih emosi, maka berbaringlah. Jika saat berbaring masih emosi maka tidurlah, Namun jika setelah tidur masih emosi maka ambilah air wudhu dan solatlah. Demikian agar hati kita tetap terjaga dalam ketenangan, kedamaian dan ketentraman sehingga terhindar dari keburukan.

Nah yang demikian itu mencerminkan kita pada buah semangka, karena coba sobat lihat semangka menunjukan kedamaian bagi orang lain denga warna kulitnya yang hijau meski di dalamnya berwarna merah yang bisa diartikan sebagai bentuk amarah. Artinya kita harus bisa menjaga diri dan padai-pandailah dalam mengolah hati jangan sampai amarah kita merugikan diri kita apalagi merugikan orang lain danmenjadikan diri kita jauh dari saudara kita. (Sumber: islampos)
Unknown

Hidup ini Cuma Mampir

Hidup ini cuma mampir
Ilustrasi
Hidup ini cuma numpang mampir, sebelum kembali ke kampung akhirat dan disana kita dipilihkan akan surga atau neraka sesuai dengan bekal yang kita kumpulkan di dunia yang cuma mampir ini, maka orang yang cerdas adalah yang mementingkan kampung akhiratnya bukan tempat mampirnya

Sering orang meributkan tempat mampir ini, ini harga mati, itu harga mati, ini harus begitu, itu harus begini, mesti ikut tradisi, mesti ikut nenek moyang, biarkan sajalah, orang-orang tak akan jadi penguasa di kampung akhirat, hanya Allah satu-satunya pemilik hari penentuan itu, maka repotlah dan khawatirlah akan maunya Allah bukan maunya manusia

Hidup itu cuma mampir, dunia ini tempat transit saja, ada yang transit jadi orang kaya ada yang jadi orang miskin, ada yang mampir jadi orang desa ada yang orang kota, dan Allah tidak akan bertanya tentang atribut lahirmu, tentang takdir yang memang dia sudah tentukan padamu

Tapi Allah pasti bertanya tentang semua modal yang diberikan kepadamu, apa pilihanmu dengannya? Bagaimana engkau memanfaatkan semua itu?

Allah tidak akan tanya kebangsaanmu nanti di akhirat, Allah tidak akan bertanya kamu lahir dari keturunan yang mana, karena Allah yang menakdirkannya. Tapi Allah akan tanya, kamu Islam atau tidak, menggunakan syariat Islam atau yang lain.

Hidup ini cuma mampir, siapkanlah jawaban diri sendiri kepada Allah Swt daripada sibuk menjawab bagi orang lain, karena setiap jiwa akan ditanya sendiri-sendiri, setiap jiwa tidak menanggung jiwa yang lain karena sudah kerepotan menanggung dirinya sendiri

Hidup ini cuma mampir, dan aku mampirnya ditentukan Allah di Indonesia dan aku alhamdulillah memilih Islam, dan aku bukan orang Indonesia yang kebetulan Islam. Jadi tanggung jawabku ada pada Allah saja, Allah semata (dari fb Ustadz Felix Siauw)

21 March 2015

Unknown

Hijab, Tanda Kerinduan Akan Surga

Hijab, Tanda Kerinduan Akan Surga
Yang hijabnya beneran karena Allah | setelah hijab pasti nyesel – NYESEL kenapa nggak dari dulu! | setuju? RT dah..

“Saya berhijab lalu teman-teman menjauhi saya” | Artinya temanmu selama ini tidak mendukungmu dalam kebaikan, itukah namanya teman?

“Saya berhijab lalu dibilang sok suci dan sok Islami” | Jadi sebenarnya mereka tau bahwa hijab itu suci dan Islami itu aja..

“Orang bilang yang penting hatinya dulu bukan hijabnya” | Hijab itu tanda baik hatinya dan tanda baik hatinya itu mau taat pada Tuhannya

“Katanya orang percuma berhijab bila lepas-pasang” | Ada benarnya sih, tapi setidaknya kamu mencoba belajar taat, sempurnakan aja

“Katanya wajahku nggak cocok buat berhijab” | Hijab itu bukan masalah cocok nggaknya, hijab itu tanda cintamu pada Allah

“Katanya berhijab tapi masih buat dosa itu munafik” | Pernyataan itu belum pasti, yang pasti kamu udah ngurangin dosa banyak banget

“Kantorku nggak mau terima karyawan berhijab” | Itu tanda kamu mesti bikin kantor sendiri, lagipula gaji dari bosmu nggak bisa beli surga

“Orang bilang berhijab susah dapet jodoh” | Bener, lelaki nggak bertanggung jawab bakal susah deketin kamu, yang ada yang salih yang mau

“Orang kata kerudung panjang, gamis lebar kayak teroris” | Itu kan kata dia, bagi lelaki salih yang kayak begitu itu bidadari dunia

“Katanya kalo udah berhijab nggak bisa macem-macem lagi” | Lho, kan memang begitu bagusnya?

“Katanya hijab itu cuma budaya arab” | Yang ngomong gitu nggak shalat? pasti dia bakal bilang shalat juga budaya arab, jangan dipercaya

“Tuntutan pekerjaanku harus nggak berhijab” | Bos bisa nuntut, Allah juga punya tuntutan, bos bakal mati, Allah menghisab semua orang, nah?

“Tapi kata orang.. kata orang…” | Yah kamu.. untuk yang maksiat kayak pacaran kamu nggak peduli kata orang, giliran taat banyak mikir

Hijab itu mahkota para salihat | Nampak hanya oleh yang taat | Jadi olokan oleh yang maksiat

Hijab bukan cerminan suci dari dosa | Hanya tanda kerinduan akan surga | Dan harap ampunan dari Pemilik jiwa

Oleh : Ust.Felix Siauw

27 February 2015

Unknown

@felixsiauw | Banyak Alasan Untuk Taat

1. “muna lu! hijab tapi masih maksiat!” | wah wah, kalo nggak kerudungan bukannya juga maksiat sis? hehe.. taat itu berproses

2. “alaaah, hijab juga belum tentu baik kok” | iya betul, seenggaknya udah berjalan kearah kebaikan kan

3. “aku berhijab kalo dah nikah aja” | hijab sekarang lebih baik, biar nanti yang milih kamu, karena ketaatanmu, ya gak?

4. “tapi aku belum siap, percuma kan kalo dipaksa” | baca, belajar, ngaji, temenan ama yang udah istiqamah, itu persiapannya

5. lagian, kamu bisa kok ibadah shalat nutup aurat, ya kan? | karena kamu yakin Allah liat kamu kan? Allah selalu liat, kapanpun

6. lagian, ketaatan pada Allah, itu persembahan terbaik buat orangtua | muliakan orangtua dengan ketaatan, bagi mereka itu paling bernilai

7. lagian, siapapun yang mendampingi kamu di masa depan, kamu pasti pingin yang taat kan? | yuk, jalannya dimulai sekarang.. hehe..

8. banyak alasan untuk taat, misalnya | “kita ini yakin dari Allah, kembali juga pada Allah, maka layaklah kita taat pada Allah”

9. satu lagi, liat komen cowok, liat yang buka aurat, paling banter “cantiknyaaa!” walau dalem hati | senantiasa kamu dilihat dari fisik

10. gimana kalau cowok ngeliat yang berhijab syar’i, minimal komen dalem hati “salihah ya..” | menurutmu enak yang mana? hehe..

11. tapi nggak ada orang liat yang buka aurat lalu komen “salihah nyaaaa!” | hehe.. fitrah manusia, suka yang taat, iya apa iya?

12. ayuh.. belajar taat, belajar berhijab, belajar syar’i | kita nggak tau kapan Allah panggil kita, kalopun iya, kita mau di jalan taat

*dari twit @felixsiauw (26/2/2015)

26 February 2015

Unknown

Nih sedekah yang tidak memberatkan kita, apa itu?

bayi, senyum, sedekah
Semua orang pasti mengetahui hal ini, bahkan semua orang bisa melakukannya, hal yang mudah dan gratis untuk dilakukan. Tetapi dibalik mudah dan gratisnya itu hal ini dihitung sebagai sedekah. Sedekah yang tidak berat, ya, itu adalah tersenyum, kita hanya menarik bibir kita ke kanan 2cm dan ke kiri 2 cm ketika bertemu dengan orang lain, atau ketika berpapasan dengan saudara kita sesama muslim, mudah kan?

Kita sering mengeluh, kita ingin mengeluarkan sedekah tetapi tidak punya uang atau harta untuk disedekahkan, nah kita simak hadits berikut

Rasulullah SAW bersabda bahwa anak keturunan Adam memiliki kewajiban untuk bersedekah setiap harinya sejak matahari mulai terbit. Seorang sahabat yang tidak memiliki apa pun untuk disedekahkan bertanya, "Jika kami ingin bersedekah, namun kami tidak memiliki apa pun, lantas apa yang bisa kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya?"
Rasulullah SAW bersabda, "Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah." (HR Tirmizi dan Abu Dzar).

Tidak ada alasan lagi untuk kita tidak bersedekah kan? dalam hadits sudah jelas disebutkan, walalupun dengan senyum, kita sudah bersedekah.

Dalam hadis lain disebutkan bahwa senyum itu ibadah, "Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah." (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi). Salah seorang sahabat, Abdullah bin Harits, pernah menuturkan tentang Rasulullah SAW, "Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW." (HR Tirmidzi).


Mulai sekarang, mari kita biasakan tersenyum kepada orang lain, walaupun yang tidak kita kenal? ya, kenapa tidak? kalau dia muslim, kan saudara kita juga, dengan senyum juga bisa menghilangkan kebencian-kebencian yang tidak perlu ada di antara sesama saudara muslim.

Keep smile and .......

22 February 2015

Unknown

Ini Dia Keutamaan Mendoakan Orang Lain Tanpa Sepengetahuannya

doa

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Memang sungguh luar biasa Islam itu. Ketika mendoakan orang lain, kita pun mendapatkan apa yang sama dengan doa untuk orang lain tersebut. Apalagi tanpa sepengetahuannya.

Mendoakan sesama muslim tanpa sepengatahuan orangnya termasuk dari sunnah hasanah yang telah diamalkan turun-temurun oleh para Nabi -alaihimushshalatu wassalam- dan juga orang-orang saleh yang mengikuti mereka. Mereka senang kalau kaum muslimin mendapatkan kebaikan, sehingga merekapun mendoakan saudaranya di dalam doa mereka tatkala mereka mendoakan diri mereka sendiri.

Dan ini di antara sebab terbesar tersebarnya kasih sayang dan kecintaan di antara kaum muslimin, serta menunjukkan kesempuraan iman mereka. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Karenanya Allah dan Rasul-Nya memotifasi kaum muslimin untuk senantiasa mendoakan saudaranya, sampai-sampai Allah Ta’ala mengutus malaikat yang khusus bertugas untuk meng’amin’kan setiap doa seorang muslim untuk saudaranya dan sebagai balasannya malaikat itupun diperintahkan oleh Allah untuk mendoakan orang yang berdoa tersebut.

Berhubung doa malaikat adalah mustajabah, maka kita bisa menyatakan bahwa mendoakan sesama muslim tanpa sepengetahuannya termasuk dari doa-doa mustajabah. Karenanya jika dia mendoakan untuk saudaranya -dan tentu saja doa yang sama akan kembali kepadanya- maka potensi dikabulkannya akan lebih besar dibandingkan dia mendoakan untuk dirinya sendiri.

Hanya saja satu batasan yang disebutkan dalam hadits -agar malaikat meng’amin’kan- adalah saudara kita itu tidak mengetahui kalau kita sedang mendoakan kebaikan untuknya. Jika dia mengetahui bahwa dirinya didoakan maka lahiriah hadits menunjukkan malaikat tidak meng’amin’kan, walaupun tetap saja orang yang berdoa mendapatkan keutamaan karena telah mendoakan saudaranya.

Hanya saja kita mendoakannya tanpa sepengetahuannya lebih menjaga keikhlasan dan lebih berpengaruh dalam kasih sayang dan kecintaan. Jadi, sudahkah kita doakan saudara kita? [al-atsariyyah]
Unknown

Firman Allah dalam Hadits Qudsi

haditsqudsi

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman:

"Hai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku haramkan perilaku zalim atas diri-Ku dan Aku jadikan di antaramu haram maka janganlah kamu saling menzalimi.

Hai hamba-Ku! Kamu semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk maka hendaklah minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku beri petunjuk.

Hai hamba-Ku! Kamu semuanya lapar kecuali yang telah Aku beri makan, hendaklah kamu minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberi makan padamu.

Hai hamba-Ku! Kamu semua telanjang kecuali yang telah Aku beri pakaian, hendaklah kamu minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberi pakaian padamu.

Hai hamba-Ku! Sungguh kalian lakukan kesalahan siang dan malam dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semua maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku akan mengampuni kalian.

Hai hamba-Ku! Sungguh kalian tidak dapat membinasakan Aku dan kalian tidak dapat memberi manfaat kepada-Ku.

Hai hamba-Ku! Jika orang terdahulu dan orang yang terakhir daripadamu, manusia dan jin semuanya, mereka itu berhati takwa seperti paling takwa diantaramu, hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit juga.

Hai hamba-Ku! Jika yang pertama dan terakhir daripadamu, manusia dan jin seluruhnya, mereka berhati jahat seperti paling jahat diantaramu, itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun.

Hai hamba-Ku! Jika orang terdahulu dan terakhir diantaramu, manusia dan jin semuanya, mereka berada di bumi yang satu, mereka meminta kepada-Ku maka Aku berikan setiap orang permintaannya, hal itu tidaklah mengurangi apa yang ada pada-Ku, melainkan seperti sebatang jarum dimasukkan ke laut.

Hai hamba-Ku! Sungguh itu semua amal perbuatanmu. Aku catat semuanya bagimu sekalian kemudian Kami membalasnya.

Maka barangsiapa mendapat kebaikan hendaklah bersyukur kepada Allah dan barangsiapa mendapat selain itu maka janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri."

(Hadits Riwayat Muslim no. 117)

21 February 2015

Unknown

Niat Benar Itu Menguatkan

niat

SEGALA sesuatu yang akan kita kerjakan haruslah dibarengi dengan niat. Niat yang akan menentukan akan melakukan apa kita nantinya. Jika niat itu mengarah pada kebaikan, tentu yang akan kita lakukan pun sejalan dengan itu. Tapi, jika niat itu mengarah pada hal negatif, bisa diprediksi pula arah yang akan dituju adalah ke sana (perbuatan tidak terpuji).

Namun ada pula niat yang salah. Tepatnya, niat yang kurang sempurna. Ada sebuah kisah yang cukup menarik bagi Anda. Ini dia kisahnya!

Diriwayatkan, salah satu pintu surga adalah pintu sedekah –khusus untuk ahli sedekah. Di dalamnya ramailah para hartawan yang dermawan (dulunya, sewaktu di dunia). Tahu-tahu ada orang miskin celingak celinguk dan masuk melalui pintu tersebut. Terang saja semua pada kaget. Mereka pikir mana mungkin si miskin ini ahli sedekah.

Sewaktu dicecar pertanyaan, sambil malu-malu si miskin ini menjawab, “Memang, sewaktu di dunia, sedekah saya tidak banyak. Tapi, saya ingin sekali bersedekah banyak. Eh, ternyata keinginan saya dicatat oleh Allah. Dicatat sebagai pahala. Mungkin inilah yang mengantarkan saya sampai ke pintu ini.”

Masih ingatkah dengan janji Nabi? “Orang yang meniatkan suatu kebaikan namun tidak mengamalkannya, maka Allah akan mencatat baginya satu pahala yang sempurna. Orang yang meniatkan suatu kebaikan lalu mengamalkannya, maka Allah akan mencatat baginya pahala sebanyak 10 sampai 700 kali lipat.” Itulah keutamaan niat. (Tentu lebih baik lagi kalau diiringi dengan amal).

Kalau sekarang Anda masih bersedekah 10 persen, yah itu tidak apa-apa. Itu standar minimal dan teruslah ditingkatkan. Namun, pada waktu yang sama, niatkan untuk bersedekah 20 sampai 40 persen suatu hari nanti. Jadikan itu cita-cita. Mudah-mudahan jadi pahala, mudah-mudahan jadi doa. Adalah kurang bijak kalau Anda meniatkan bersedekah 10 persen terus-menerus. Wong niat itu masih gratis kok! Ngapain dikit-dikit? Right?

Penulis buku percepatan rezeki Ippho Santosa, ketika melihat orang bersedekah besar-besaran, malah termotivasi dan berdoa agar bisa seperti orang itu. Sebagiak kita, ketika meliaht orang bersedekah besar-besaran, eh malah curigaan dan berlagak jadi auditor amal. Sok-sok mengaudit amal orang lain. Buatlah niat yang bertasbih, bukan perasangka yang bertasbih.

Jarang orang yang sadar bahwa niat yang benar itu menguatkan. Misal, ketika telat makan siang, kemungkinan besar Anda akan kelaparan, lemas dan sedikit pusing. Padahal, paginya Anda sudah sarapan. Nah, bayangkan saat-saat Anda berpuasa. Anda tidak makan sekitar 14 jam. Tapi kok Anda tidak merasa kelaparan, lemas dan pusing? Karena puasa Anda diawali dengan niat yang benar. Jadi ingatlah, niat yang benar itu menguatkan! [Sumber: Percepatan Rezeki dalam 40 Hari dengan Otak Kanan/Karya: Ippho “Right” Santosa/Penerbit: Elex Media Komputindo Kompas Gramedia] (islampos)

19 February 2015

Unknown

Mampukah Memilih Pasangan Hidup Tanpa Harus Pacaran?

pacaran, cinta

“Kenapa sih, ngga boleh pacaran? Kan kita saling suka sama suka, kita juga ngga ganggu orang lain”, kalimat seperti ini acap kali diucapkan oleh para remaja dengan nada kesal. Zaman yang semakin modern, remaja pacaran, berjalan dan mojok berduaan, memang sudah sangat biasa. Mereka terlihat di mana-mana.

Pengaruh media, televisi, internet, bacaan dan lain-lain membuat pergaulan menjadi bebas. Pola pacaran menjadi lebih “berbahaya” dan “seronok”. Akhir-akhir ini buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” menuai kecaman dari berbagai kalangan mulai dari birokrat, tokoh agama hingga lingkungan masyarakat serta media sosial dan media massa. Penulisnya pun akhirnya meminta maaf serta menarik buku yang telah beredar. Terdapat halaman yang berisi tentang bercinta, sikap remaja, seputar pacaran, dan hubungan anak dengan orang tua. Apabila buku ini dibaca oleh remaja sekarang, mereka bisa menganggap zina adalah hal yang biasa.

Dari zaman nabi Adam sampai zaman Rasulullah SAW, agama Islam telah melarang pencurian seperti juga Islam melarang orang untuk pacaran, atau pun mendekati zina. Allah Maha Mengetahui, yang Maha Pencipta, yang paling tahu apa yang terbaik buat kita. Allah menginginkan manusia ciptaan-Nya hidup bahagia dunia akhirat, sehat wal ‘afiat dan menjadi penghuni surga yang selamat.

Pacaran tidak menjamin kita akan tahu sifat calon suami atau istri seseorang. Hanya dengan shalat istikharah, meminta petunjuk kepada Allah. Berdoalah: “Ya Allah, kalau memang ia baik untukku mudahkanlah, jika tidak baik untukku jauhkanlah”.

Memilih pasangan hidup yang baik tidak hanya dilihat dari penampilan luarnya saja. Karena bisa saja penampilan luar itu hanya sebuah fatamorgana yang menipu mata. Orang yang baik adalah orang yang bagus akhlaqnya dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala.

Karena itu, Islam menganjurkan kepada laki-laki untuk memilih istri yang shalihah. Mendahulukannya daripada istri yang kaya, atau istri yang mempesona kecantikannya, atau istri yang berasal dari keturunan ningrat.

Pengertian dari istri shalihah yaitu istri yang memegang agama seperti memegang bara api meskipun banyak godaan dan pujian namun tak tergoyahkan dan berakhlak mulia kepada sang Khaliq dan makhluq, seperti hadits Rasulullah Saw: “Dunia adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah istri yang shalihah.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain dijelasakan, “Wanita dinikahi karena empat hal: Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka utamakanlah olehmu karena agamanya, niscaya kamu selamat.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Hadits lain juga menyebutkan “Ambillah wanita beragama dan berakhlak niscaya kamu selamat.” (HR. Ahmad)

Islam juga menganjurkan kepada wanita dan walinya agar memilih suami yang shalih, bukan hanya kaya harta, terhormat keturunannya dan tinggi jabatannya. Suami yang shalih adalah suami yang beragama kuat sehingga mampu menjaga anggota keluarganya dari api neraka dan berakhlak mulia kepada sang khaliq dan makhluq.

Dijelaskan dalam hadits: “Apabila datang kepada kalian (kepada para wali perempuan) laki-laki yang kalian ridhai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Seorang perempuan dan keluarganya wajib memilih laki-laki yang beragama kuat, agar suami dapat memperhatikan hak anak dan istrinya, bertaqwa kepada Allah dan bekerjasama dalam mengabdi agama Islam.

Dalam konteks masalah cinta antara laki-laki dan perempuan, Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Aku tidak pernah melihat dua orang yang saling mengasihi, melainkan melalui jalur pernikahan.”

“Jika engkau menikahkan anak perempuanmu, maka nikahkanlah dengan orang yang beragama, jika dia mencintainya dia akan memulikannya, dan jika dia marah dia tidak akan menzhaliminya.” (bersamadakwah.net)

18 February 2015

Unknown

Potret Persaudaraan Kita


Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah-berkata:

“Bila ada orang yang menyayangi anda karena sesuatu, maka dia akan berpaling disaat sesuatu tersebut hilang dari anda”.
-Miftaah Ad Daar As Saadah-

Dalam hidup kita harus cerdas membedakan mana orang yang hadir sebagai saudara, sahabat, atau orang yang hanya numpang lewat.

Apalagi hari ini, dimana kata ukhuwah (persaudaraan) tak lebih dari sekedar pelengkap majelis, selalu manis diujung lidah dan jauh dari praktek.

Hari ini… Ukhuwah hampir selalu identik dengan
1. kepentingan bisnis
2. kesamaan hobi
3. kesamaan visi dalam berpartai atau berorganisasi,
4. atau karena tujuan-tujuan lain yang sebenarnya jauh dari makna ukhuwah yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam 14 abad silam.


Beliau -shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda:

“Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim lainnya. Tidak boleh menganiaya ataupun membiarkan dianiaya. Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa melapangkan kesusahannya, maka Allah akan melapangkan kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aibnya, maka Allah akan menutupi aibnya dihari kiamat“ (HR. Bukhori)

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayangi dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.
(HR.Muslim)

Makna ukhuwah yang tersurat dalam sabda tersebut adalah makna ukhuwah yang murni, jauh dari tendensi pribadi atau kepentingan duniawi. Bahkan makna ukhuwah itu menembus segala batas-batas materi, pangkalnya menancap di bumi, namun ujungnya menjulang ke surga.

Kita harus bercermin kembali pada generasi awal yang hidup dalam tarbiyah nabawiyah, membaca kembali kisah keteladanan mereka, bukan untuk sekedar berbangga namun untuk meneladani, supaya kemusliman kita tampil dalam performa yang luhur.

Mari merajut ukhuwah diatas minhaj nubuwah.
________________
Madinah 24-04-1436 H
ACT El Gharantaly


al ustad Aan Chandra Thalib hafizdahullah

*dari @Abu Hammam

17 February 2015

Unknown

Cerdas Menghadapi Kematian

Cerdas Menghadapi Kematian
Kematian (ilustrasi).
Oleh: Iu Rusliana

Rasanya terlalu cepat ketika kematian datang tiba-tiba kepada anak, istri, orang tua, dan keluarga. Tak ada yang pernah menginginkannya.
Kalau mungkin meminta, nanti sajalah ketika semua nafsu duniawi telah terpenuhi. Begitulah keinginan manusia, namun dapat berbeda dengan ketetapan Sang Pencipta.

Dalam Alquran surah Ali Imran ayat 145, Allah SWT berfirman, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya.”

Dengan demikian, kehidupan dan kematian telah ditetapkan oleh-Nya. Hanya saja apabila kelahiran selalu dirayakan dengan penuh kebahagiaan, kematian selalu diiringi tangis kesedihan. Bukan sehari dua hari, berbulan, atau bahkan bertahun-tahun. 

Pada 18 Januari 2015 lalu, penulis merasakan kepedihan itu ketika anak laki-laki pertama yang berusia sembilan tahun dipanggil terlebih dahulu oleh pemilik sejatinya. Sudah dua minggu lebih sedih itu masih menggelayuti jiwa.

Jangankan kita manusia biasa, Rasulullah SAW sempat menitikkan air mata saat istri tercinta, Siti Khodijah, meninggal.
Ketika paman terkasih yang melindunginya, Abu Tholib, meninggal saat perjuangan menegakkan Islam masih berat, Baginda Rasul pun sangat bersedih. 

Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, bersedih itu boleh, tapi sewajarnya saja. Jangan meratapi terus-menerus sehingga semangat hidup hilang dan berputus asa.
Ingatlah, bukan hanya harus beriman kepada Allah, malaikat, kitab, Rasul, dan hari pembalasan, melainkan kita juga harus beriman kepada ketetapan untuk setiap makhluk-Nya (qada/ qadar).

Kekuatan imanlah yang menguatkan dan mengingatkan semua yang ada dalam kehidupan dunia ini hanyalah titipan. Amanah Tuhan, yang kapan saja bila Dia berkehendak, akan diambilnya.
Keikhlasan dan kesabaran menjalaninya sebagai obat terbaik. Kemarahan, mencari-cari alasan, berandai-andai kita bisa menyelamatkan diri dari kematian, hanyalah pintu setan untuk menanggalkan iman.

Ini soal antrean saja, bisa lebih dahulu anak, istri, suami, orang tua, dan orang terkasih kita lainnya. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS an-Nisa [4]:78).

Kematian sangatlah menakutkan bagi mereka yang banyak dosa. Dalam Alquran surah al-Jumu’ah ayat 7 dinyatakan, “Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.”

Tapi bagi orang beriman, kematian sangatlah membahagiakan karena pintu terbuka untuk bertemu Yang Maha Penyayang. Bagi yang ditinggalkan terlalu banyak hikmah dan hidayah dari-Nya apabila kita sanggup menangkapnya. Ketika ikhlas menghiasi jiwa, petunjuk Tuhan akan dengan mudah diterima. Kekuatan jiwa untuk menerima ujian semakin meningkat dan kualitas ibadah akan semakin baik.

Berserah diri kepada Allah SWT dan jadilah manusia cerdas sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas ra, “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang memperhatikan wajah manusia, didapati orang tersebut sedang bergelak tawa.
Maka berkata Izrail, ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus Allah SWT untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak tawa.”
           
Seorang sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasulullah lalu menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas (HR Ibnu Majah, Thabrani dan Al Haitsami). Wallahu’alam. (republika.co.id)

15 February 2015

Unknown

Mau Mengenal Aib Diri, Ini Cara Imam Ghazali

Mau Mengenal Aib Diri, Ini Cara Imam Ghazali

Oleh Bahron Ansori

JAKARTA - Kebanyakan manusia lupa pada aib yang melekat pada dirinya sendiri. Mereka juga menutup mata atas kekurangan-kekurangan yang ada. Sebaliknya, manusia malah selalu mengganggap dirinya lebih baik dibandingkan orang lain. Itu jelas bertentangan dengan firman Allah SWT yang artinya, "Maka janganlah ka mu menga - takan dirimu suci. Dialah yang paling me ngetahui tentang orang yang bertakwa." (QS an-Najm: 32).

Mengenal aib diri berarti menyadari kesempurnaan mutlak hanyalah milik Allah SWT. Sedangkan, kemaksuman hanya dipunyai oleh Rasulullah SAW. Kita tidak lebih dari seorang manusia yang diliputi beragam ke kurang an, baik dari sisi ilmu maupun amal. Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang (mau) bertobat." (HR Tirmidzi).

Imam Ghazali pernah berkata, "Kehidupan seorang Muslim tidak dapat dicapai dengan sempurna, kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap.

Tahapan-tahapan itu, antara lain, tobat, sabar, fakir, zuhud, tawakal, cinta, makrifat, dan ridha. Karena itu, seorang mukmin wajib mendidik jiwa dan akhlaknya. Sementara, hati adalah cermin yang sanggup menang kap makrifat, kesanggupan itu terletak pada hati yang suci dan jernih. Imam Ghazali juga mengatakan, "Siapa hendak mengetahui aib-aibnya, maka ia dapat menempuh lima jalan.

Pertama, duduk di hadapan seorang guru yang mampu mengetahui keburukan hati dan berbagai bahaya yang tersembunyi di dalamnya. Kemudian, ia memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam bermujahadah membersihkan aib itu. 

Ini adalah keadaan seorang murid dengan gurunya. Sang guru akan menunjukkan aib-aibnya dan cara pengobatannya, tapi pada zaman sekarang guru semacam ini langka.

Kedua, mencari seorang teman yang jujur, memiliki bashiroh (mata hati yang tajam), dan berpegangan pada agama. Ia kemudian menjadikan temannya itu sebagai peng awas yang mengamati keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan zahirnya sehingga ia dapat memperingatkannya. Demikian inilah yang dahulu dilakukan oleh orang-orang cerdik, orang-orang terkemuka, dan para pemimpin agama.

Ketiga, berusaha mengetahui aib dari ucapan orang yang membencinya. Sebab, pandangan yang penuh keben- cian akan berusaha menyingkapkan keburukan seseorang. Bisa jadi, manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang sangat membencinya dan suka mencari-cari kesalahannya lebih banyak dari teman yang suka bermanis muka, memuji, dan menyembunyikan aib-aibnya. 

Namun, sudah menjadi watak manusia untuk mendustakan ucapan musuh-musuhnya dan menganggapnya sebagai ungkapan kedengkian. Akan tetapi, orang yang mempunyai mata hati jernih mampu memetik pelajaran dari berbagai keburukan dirinya yang disebutkan oleh musuhnya.

Keempat, bergaul dengan masyarakat. Setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, ia segera menuduh dirinya sendiri juga memiliki sifat tercela itu. Kemudian, ia tuntut dirinya untuk segera meninggalkannya. Sebab, seorang mukmin adalah cermin bagi Mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain, ia akan melihat aib-aibnya sendiri.

Kelima, renungkanlah pendeknya umur. Andai kita berumur seratus tahun sekalipun, umur itu pendek jika dibandingkan dengan masa hi dup kelak di akhi rat yang aba di. Karena itu, lihatlah aib sendiri se belum menilai aib orang lain. (republika.co.id)
Unknown

Jangan Remehkan Anak Kecil

Jangan Remehkan Anak Kecil
IMAM AL BUKHARI di waktu kecilnya sering mendatangi para fuqaha di Marwa. Jika mendatangi mereka, Imam Al Bukhari malu untuk mengucapkan salam.

Sampai pada suatu saat salah satu pendidik di tempat itu bertanya,”Berapa hadits yang engkau tulis hari ini?” Imam Al Bukhari pun menjawab,”Dua”. Maka tertawalah mereka yang berada di majelis tersebut.

Setelah itu, salah satu syeikh mengatakan,”Janganlah kalian menertawainnya. Bisa jadi suatu saat ia yang akan menertawakan kalian!” (Siyar A’lam An Nubala, 12/401)

Benar adanya, meski pernah menjadi bahan tertawaan, ketekunan Imam Al Bukhari dalam menuntut hadits sejak di masa kecil membuatnya menjadi ulama besar di dunia Islam. (hidayatullah.com)

13 February 2015

Unknown

Kisah Nyata: Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!

Madinah National Hospital [ilustrasi]
Tagihan persalinan sebesar Rp. 17 juta, layaknya palu godam yang menghantam kepalaku

AKU hanya bisa pasrah memandang Saidah, istriku yang berbaring lemah di sebuah Rumah Sakit (RS) di kota Madinah. Namun, keteganganku mendapati istri yang harus menjalani persalinan di tanah rantau dan jauh dari keluarga rupanya belum cukup. Sebab ternyata, istri telah divonis operasi cesar oleh dokter yang menanganinya.

Sekonyong-konyong, seorang petugas langsung menghampiriku dan menyodorkan secarik tagihan berisi beberapa angka.

“Iya, benar! hanya Rp. 17.000.000 dan harus dibayar cash sekarang,”  kata petugas itu datar.

Tanpa sadar, bola mataku perlahan mulai mengair. Ya Rabb, darimana uang sebanyak itu? Jangankan tabungan atau celengan, handphone pun adalah barang yang sangat mewah bagiku yang masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM).

“Kami baru bisa bertindak jika biaya administrasi itu sudah lunas,” kata- petugas rumah sakit itu terngiang kembali, layaknya palu godam yang menghantam kepalaku.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS: Al Baqarah: 153]

Penggalan surat yang sudah lama kuhafalkan itu tiba-tiba berkelebat dalam fikiranku. Seolah ada yang menggerakkan, tanpa fikir panjang aku langsung melangkah mengambil air wudhu dan bersimpuh di hadapan-Nya.

Seolah tanpa jarak, saat itu aku benar-benar menumpahkan segala curhatku kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Shalat dan berdoa, itu saja yang kuulang-ulang terus. Entahlah, rupanya beberapa dokter iba melihat perbuatanku. Mereka lalu bersedia membantu proses operasi tanpa perlu dibayar.

“Alhamdulillah, pertolongan Allah mulai terbuka,” demikian batinku dalam diam.

Ibarat pepatah, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.” Saat menghadap direktur rumah sakit, para dokter spesialis itu malah langsung kena semprot oleh sang direktur.

“Memangnya ini rumah sakit punya bapak kalian. Semua peralatan dan obat-obat itu harus dibayar? Kalian di sini hanya bekerja menjalankan tugas saja, tidak punya hak untuk  membebaskan biaya pasien cecar, “ demikian direktur yang emosi.

Aku hanya diam membisu di belakang. Dalam hati, aku kasihan juga melihat para dokter itu. Mereka kena marah hanya karena ingin membantu urusanku saja.

Entah mengapa, lagi-lagi aku ingin shalat dan mengadu kepada-Nya lagi. Entah mengapa, tiba-tiba hati ini terasa sejuk dalam lautan doa yang terus kupanjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Akhirnya, tiba-tiba Allah Subhanahu Wata’ala mempertemukanku dengan salah seorang pengurus rumah sakit.

Uniknya, orang yang baru kukenal itu kaget dan sontak merangkul badanku dengan akrab. Usut punya usut, ternyata ia membaca nama yang tertera di kartu lembaran identitasku, Nashirul Haq al-Bilawi. Rupanya orang itu mengira diriku berasal dari suatu daerah dan semarga dengannya dari dataran Arab, yaitu Alwi atau Alawi. Entah apa karena saya dianggap garis keturunan Alawi dari Hadramaut. Padahal “Bilawi” itu adalah Bilawa,  nama sebuah kampung di pelosok Sulawesi Selatan.

Singkat kata, semua biaya operasi ditanggung olehnya. Subhanallah Wallhamdulillah.

Qaddarallahu, ternyata kisah ketegangan di Rumah Sakit Madinah itu rupanya belum tuntas. Pasca operasi cesar dilakukan, sontak sesaat rumah sakit itu langsung heboh. Ternyata ada inspeksi mendadak (sidak) alias razia bagi penduduk kota Madinah yang tak memiliki identitas lengkap.

Ya Rabb, sekali lagi aku hanya bisa berharap dan meminta kepada-Mu. Sebab wanita yang baru saja melahirkan anak pertamaku itu tak punya identitas sama sekali, kecuali ia adalah istriku yang sah.

Sudah maklum bagi pendatang, pasien gelap atau siapa saja yang ketahuan tak punya identitas terancam dipulangkan dengan paksa. Meski bersama bayi merahnya sekalipun.

Subhanallah. Allah Subhanahu Wata’ala tak pernah tidur dan membiarkan hamba-Nya dirundung kesusahan. Allah berkuasa atas segala tipu daya yang ada.

Saat petugas pemeriksa itu datang, mereka hanya melewati istriku yang masih terbaring lemah. Rupanya petugas itu mengira diriku adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias pembantu dan istriku disangkanya seorang majikan orang Arab yang sedang kujaga. Allahu Akbar!*/Roidatun Nahdhah, pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri. Kisah nyata ini disampaikan oleh Nashirul Haq dalam sebuah kesempatan majelis taklim, di Gunung Tembak, Balikpapan (http://www.hidayatullah.com/)

11 February 2015

Unknown

Ciri Seorang Muslim adalah Mencintai Ilmu

“Masak iya, baca koran tiap hari bisa,
tapi baca Qur’an tidak bisa?" [ilustrasi]
SAAT ini, manusia hidup dengan diliputi beragam informasi dalam jumlah yang begitu banyak secara bersamaan. Jika tidak, hati-hati, perhatian kita akan tersita oleh apa-apa yang booming di media massa. Alih-alih kita akan efektfif dalam memanfaatkan waktu, mengutamakan yang prioritas pun bisa terbengkalai.

Padahal, hidup dalam pandangan Islam adalah pertanggungjawaban. Dan, bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan jika kita tidak memiliki ilmu atas apa yang menjadi pilihan hidup kita sehari-hari. Itulah mengapa Islam mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut (mencintai) ilmu.

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya Al-‘Ilmu wal ‘Ulama menguitip pernyataan seorang ahli hikmah menganai pentingnya ilmu ini. “Ilmu seseorang adalah anaknya yang kekal.”

Hal ini menunjukkan bahwa ilmu yang dimiliki seseorang akan diingat manusia, kemudian mereka mengamalkannya dan ia akan mendapatkan pahalanya selama ada orang yang mengamalkan ilmunya. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, “Barangsiapa menunjukkan pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.”

Keutamaan Ilmu atas Harta

Lebih lanjut Abu Bakar Jabir Al-Jazairi mengutip riwayat yang disampaikan oleh Sayyidina Ali tentang keutamaan ilmu. “Ilmu lebih utama daripada harta karena tujuh alasan (aspek), yaitu;

Ilmu adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan Fir’aun
Ilmu tidak akan berkurang dengan diberikan kepada orang lain, sedangkan harta akan berkurang jika dinafkahkan.
Harta perlu dijjaga, sedangkan ilmu dapat menjaga pemiliknya.
Jika seseorang meninggal dunia, ia akan meninggalkan hartanya, sedangkan ilmu akan dibawa ke dalam kubur.
Harta dapat dicapai oleh orang mukmin dan kafir, sedangkan ilmu hanya dapat dicapai oleh orang mukmin.
Semua orang membutuhkan seorang yang berilmu yang mengetahui urusan agama dan mereka tidak memutuhkan pemilik harta.
Ilmu akan menguatkan seseorang dalam menyeberangi shirath (jalan menuju surga), sedangkan harta akan menghalanginya.
Pantas jika kemudian Mush’ab bin Zubair radhiyallahu ‘anhu berwasiat kepada anaknya seperti ini, “Wahai anakku, tuntutlah ilmu, karena ilmu akan menjadi keindahan jika kamu memiliki harta, dan ilmu itu akan menjadi harta jika kamu tidak memiliki harta.”

Penentu Kualitas Agama

Selain tujuh keutamaan di atas, ilmu juga akan menjadi penentu kualitas (kelurusan) agama seorang Muslim. Dengan kata lain, bagus tidak agamanya ditentukan oleh lurus tidaknya ilmu yang dimiliki.

Diriwayatkan dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorang yang berusaha mencari sesuatu seperti keutamaan ilmu yang dapat memberikan petunjuk kepada pemiliknya atau mengangkatnya dari kehinaan, dan tidaklah seseorang akan lurus agamanya hingga lurus ilmunya.” (HR. Thabrani).

Lebih Baik dari Ibadah Sunnah

Menurut Abu Bakar Jabir Al-Jazairi hadits tersebut menunjukkan bahwa ilmu merupakan suatu yang paling baik yang harus dicari seorang Muslim dalam kehidupan ini, dan itulah yang lebih utama daripada ibadah-ibadah sunnah.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Wahai Abu Dzar, kamu pergi dan mempelajari satu ayat saja dari Kitab Allah Ta’ala (Al-Qur’an) adalah lebih baik bagi kamu daripada sholat seratus raka’at dan kamu pergi kemudian belajar satu bab dari ilmu baik diamalkan maupun tidak adalah lebih baik daripada sholat seribu raka’at.” (HR. Ibn Majah).

Kemudian dinukil hadits lain yang diriwayatkan dari Hudzifan bin Al-Yaman, “Keutamaan ilmu adalah lebih baik dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agamamu adalah wara’ (menjauhkan diri dari dosa dan syubhat).” (HR. Abu Ya’la dan Baihaqi).

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menjalaskan bahwa yang dimaksud dengan ‘keutamaan ilmu dan ‘keutamaan ibadah’ adalah hal-hal yang sunnah atau dianjurkan dari keduanya, bukan yang merupakan fardhu atau kewajiban; karena sebagian dari ilmu ada yang wajib hukum menuntutnya dan ada pula yang sunnah, dan demikian pula ibadah.

Dengan demikian, prioritas seorang Muslim dalam kesehariannya tidak boleh lain kecuali ilmu. Orang dahulu berkata, “Masak iya, baca koran tiap hari bisa, tapi baca Qur’an tidak bisa.

Artinya, menuntut ilmu sudah seharusnya menjadi tradisi yang dicintai oleh seluruh umat Islam. Jangan sampai, umur sudah 30 tahun, tapi dalam keseharian masih sering mengabaikan diri dari menuntut ilmu, sampai-sampai (mohon maaf) membaca Al-Qur’an saja tidak bisa. Untuk itu, mulai sekarang, ubahlah prioritas dalam hidup kita, utamakan ilmu dan yang belum kita mengerti dari yang terpenting dari agama ini, apalagi kalau bukan Al-Qur’an dan Sunnah.

Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, “Belajarlah ilmu, sebab mempelajari ilmu karena Allah adalah takut kepada-Nya dan menuntut ilmu adalah ibadah, mudzakarah-nya (mengingat-ingatnya) adalah tasbih, dan mencarinya adalah jihad (perjuangan), mengajarkannya adalah sedekah, dan mencurahkannya kepada ahlinya adalah kedekatan (kepada Allah).” Wallahu a’lam.

Sumber : http://www.hidayatullah.com/