Loading...

10 June 2010

FatahKun

Klaim Zionis VS Al-Qur'an

Klaim Zionis VS Al-Qur'an
Ketika membicarakan Israel, permasalahan selalu saja mentok pada "klaim historis" bangsa Yahudi dan bangsa Arab Palestina. Yakni bahwa kedua-duanya sama-sama penduduk asli Palestina, oleh karenanya harus ditempatkan secara bersama-sama di Palestina. Pembagian wilayah versi PBB pun dipandang sebagai satu-satunya solusi terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak.

Klaim historis tersebut masih ditambah lagi dengan klaim teologis. Sebuah klaim yang kemudian menyebabkan negara seperti Amerika terpaksa memenuhi hak keberagamaan kaum Yahudi dengan menyokong penuh eksistensi negara Israel. Menurut Zionis, Palestina adalah negeri yang dijanjikan kepada Ibrahim, bapak mereka, untuk mereka tempati.

Dalam kitab Kejadian, 12 : 1-4, kisah tentang Abram (Ibrahim) versi Yahudi itu diceritakan, bahwa Tuhan memerintahkan Abram:

Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapakmu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi ini akan mendapat berkat.

Cerita selanjutnya menurut Bible, Abram pergi ke tanah Kanaan, ketika itu Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berfirman, “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” (kejadian, 12 : 7). Oleh kaum Yahudi, negeri yang disebut dalam Bible itu lalu dijadikan dasar untuk mengklaimnya sebagai “Tanah Yang Dijanjikan” (The Promised Land/Eretz-Israel). Kitab Kejadian 15 : 18 menyebutkan bahwa pada hari itulah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman, “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari Sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.” Kitab Yosua 21 : 43 menyebutkan: “Jadi seluruh negeri itu diberikan Tuhan kepada orang Israel, yakni negeri yang dijanjikann-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka. Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.”



Membantah Klaim Teologis

Terhadap klaim-klaim sepihak tersebut, al-Qur`an mematahkannya. Dalam hal ini, kalau hendak disejajarkan dengan kitab Yahudi, dengan sendirinya al-Qur`an harus juga diakui oleh dunia sebagai arumentasi penyeimbang. Sehingga tidak bisa argumentasi Zionis diterima begitu saja sebagai pembenar untuk mendirikan negara Israel.

Al-Qur`an dengan sangat konsisten menyatakan bahwa agama para nabi, termasuk Ibrahim, jauh dari nilai-nilai rasial. Bukan ras Yahudi dan Israelnya yang dinyatakan akan masuk surga, tapi sejauh mana kualitas keberagamaannya yang hanif, muslim, dan tidak musyrik. Bahkan orang yang ber-KTP Islam pun dengan sendirinya tidak dijamin masuk surga apabila kualitas keagamaannya tidak memenuhi standar yang diharuskan.

Terhadap kenyataan ini, maka al-Qur`an menginformasikan adanya dua dasar dalam ajaran para nabi. Pertama, semua nabi mengajarkan beribadah hanya kepada Allah swt, dan kedua, kesamaan ajaran tersebut membawa konsekuensi harus diakuinya semua kitab dan nabi yang diutus Allah, tanpa pilih-pilih (la nufarriqu baina ahadin min rusulih). Yahudi dan Kristen dengan sendirinya tidak dapat mengklaim pelanjut ajaran para nabi karena mereka telah musyrik dan tidak mengakui kenabian Muhammad saw juga al-Qur`an. Khusus untuk Yahudi, mereka tercatat sebagai bangsa yang memilih-milih para nabi. Sebagian mereka imani, sebagian lagi ditolak, beberapa di antaranya malah dibunuh.

Oleh karena itu Allah swt mengingatkan, Ibrahim janganlah ditarik-tarik dalam pusaran konflik Yahudi, Kristen, dan Islam yang sifatnya mengakui secara sepihak dengan menegasikan pihak lainnya. Al-Qur`an meminta agar Ibrahim ditempatkan dalam posisi yang semestinya sebelum adanya ajaran Yahudi, Kristen atau Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw itu sendiri. 

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim (Yahudi dan Nasrani masing-masing menganggap Ibrahim as itu dari golongannya. Lalu Allah membantah mereka dengan alasan bahwa Ibrahim as itu datang sebelum mereka), padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?

Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui (yakni tentang Nabi Musa as, Isa as dan Muhammad saw), maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui (yakni tentang hal Ibrahim as)? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif (berarti jauh dari syirik dan jauh dari kesesatan) lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (QS. Ali 'Imran [3] : 65-67)

Dengan memposisikan Ibrahim seperti itulah, makanya al-Qur`an menyatakan tidak salah kalau kemudian Muhammad dan pengikutnya, kaum muslimin, lebih berhak mengklaim sebagai lebih dekat kepada Ibrahim, dan dengan sendirinya sebagai pelanjut sah ajarannya. "Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran [3] : 68)

Dalam hal bantahan ini pula al-Qur`an menyatakan bahwa tanah yang selalu diperhatikan oleh Ibrahim itu bukan Palestina, melainkan al-Haram. “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikan negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim [14] : 35)



Membantah Klaim Historis


Kalaupun kemudian klaim teologis dan historis yang diajukan oleh Zionis itu hendak diterima, maka fakta bahwa keturunan Ibrahim bukan bangsa Yahudi saja tidak memestikan adanya pemaksaan pendirian negara Israel. Juga kenyataan sejarah bahwa bangsa asli Palestina itu adalah Filistin yang melahirkan bangsa Arab dan Kanaan yang melahirkan Semit (Yahudi dan Arab). Semua itu harus menjadikan kedua belah pihak hidup secara damai dan harmonis, tanpa ada tindakan terorisme dari dua belah pihak.

Dengan demikian, maka kepemilikan tanah Palestina haruslah dirujukkan pada aturan tentang pertanahan yang berlaku. Yakni bahwa pengambilalihan tanah tidak boleh terjadi kecuali dengan cara dibeli. Kalau kemudian terjadi perampasan dan pengusiran, walau itu dengan payung buatan bernama Resolusi 181, tetap saja tidak bisa diterima karena merupakan sebuah kolonialisme alias penjajahan.



Israel akan Terusir?

Al-Qur`an sendiri dalam satu surat khusus, al-Hasyr [59], menjelaskan bahwa keputusasaan kaum muslimin untuk mengepung dan mengusir bangsa Yahudi zhalim dari tanah yang dikuasainya pasti akan hilang dengan pertolongan Allah swt. Pertolongan Allah swt itu sendiri datang disebabkan dua hal: Pertama, kaum muslimin dalam posisi menakutkan bagi bangsa Yahudi, dan kedua, karakter bangsa Yahudi itu sendiri yang memang penakut.

Faktor pertama ditandai dengan kolaborasi indah (muakhat) antara Muhajirin selaku pengungsi yang terusir, dengan Anshar selaku negara tetangga yang menerima Muhajirin dengan hangat. Kolabirasi tersebut berhasil menggeser hegemoni ekonomi dan militer Yahudi di Madinah sehingga membuat mereka ketakutan. Sementara faktor kedua ditandai dengan tidak beraninya Yahudi berperang secara terbuka, kecuali jika di perkampungan yang berbenteng atau tembok-tembok yang menghalangi.

Faktor yang kedua, sampai saat ini masih terlihat jelas. Israel dalam setiap serangannya hanya berani lewat udara, artileri canggih atau tank baja, sementara lewat perang terbuka mereka sering ketar-ketir. Mereka pun merasa perlu memasang tembok pemisah di negera mereka. Akan tetapi faktor pertama rupanya saat ini tidak ada. Jutaan pengungsi Palestina yang terusir dari kampung halamannya masih terlunta-lunta. Antara sesama kelompok Islam di Palestinanya sendiri pun masih tidak bisa muakhat. Kondisi ini secara tidak langsung juga menyebabkan musuh tidak gentar lagi terhadap umat Islam. Persis sesuai dengan hadits Nabi saw tentang akan dicabutnya ketakutan dari musuh Islam karena umat Islam terlalu mementingkan dunia atau alasan-alasan pragmatisme politik (wahn).

Maka dari itu, tidaklah heran kalau Allah swt menutup surat tersebut dengan rangkaian ayat yang dimulai dengan:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (ayat 18-19)

Pertanyaannya sekarang, benarkah umat Islam telah melupakan Allah dan agamanya karena tersibukkan oleh dunia? Kita semua pasti bisa menjawabnya.

Sumber : Persis.or.id