Loading...

20 May 2010

FatahKun

IBADAH dan ISTI'ANAH

Allah Swt berfirman yang artinya, “Hanya kepada-Mulah kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan. Hanya kepada-Mulah kami beribadah, (inilah yang dimaksud dengan ibadah). Dan, hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan, (inilah yang dimaksud dengan isti'anah).” (Q.S. Al-Fatihah [1]: 5)

Ibadah adalah satu ungkapan akumulasi kesempurnaan terhadap dua hal; puncak kecintaan dan puncak ketundukan. Untuk memahaminya kita bisa mengilustrasi sebagai berikut, seorang ayah atau ibu sudah pasti ia mencintai anaknya. Tapi, keduanya tidak tunduk dan patuh kepada anak tersebut. Bahkan terkadang, beberapa kemauan anak dicegah demi kebaikannya. Maka, kedua orang tua tersebut tidak beribadah kepada anaknya. Hal ini karena tidak ada unsur ketundukan, meskipun disana ada unsur kecintaan. Begitu pula dengan seorang budak. Ia akan selalu tunduk kepada tuannya dan melaksanakan apa yang diperintahkan olehnya. Tetapi ketundukan dia bukanlah wujud dari rasa kecintaan dirinya kepada tuannya. Jadi yang dimaksud dengan ibadah adalah ungkapan akumulasi kesempurnaan dari kecintaan dan juga ketundukan.

Adapun yang dimaksud dengan isti'anah (memohon pertolongan) adalah ungkapan akumulasi kesempurnaan terhadap dua hal; tsiqqoh (percaya) kepada Allah Swt dan i'timad (bersandar penuh) kepada-Nya.

Karena faktor kebutuhan, terkadang seseorang menyandarkan suatu urusan kepada yang lain, walaupun ia tidak percaya kepadanya. Sebaliknya, karena tidak membutuhkan, bisa saja seseorang percaya kepada yang lain, tetapi tidak bersandar kepadanya. Terlepas dari itu semua, adakah manusia yang tidak membutuhkan Allah Swt, Dzat Yang Maha Mampu atas segalanya, yang mengatur alam dan seisinya? Kalaulah ada orang yang tidak tsiqqah kepada Allah Azza wa Jalla pastilah ia seorang kafir.

Apabila kita perhatikan surat alfatihah di atas, maka kita dapatkan bahwa ibadah lebih didahulukan daripada isti'anah. Menurut Ibnul Qoyyim al-Jauziyah hal ini karena beberapa hal:

[1] Karena ibadah adalah tujuan, sementara isti'anah adalah wasilah (sarana). Ibadah adalah tujuan diciptakannya hamba, sementara isti'anah adalah wasilah untuk mencapai tujuan itu. [2] Karena isti'anah adalah bagian dari ibadah dan bukan sebaliknya. [3] Karena ibadah tidak akan muncul kecuali dari orang yang ikhlas. Sedangkan isti'anah bisa muncul, baik dari hamba yang ikhlas maupun yang tidak. [4] Karena ibadah bisa dikatakan ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan, sedangkan i'aanah (pertolongan) adalah perbutan dan taufiq Allah. [5] Karena ibadah dipagari dengan dua macam pertolongan, yaitu pertolongan untuk bisa beriltizam dan menegakkannya, serta pertolongan- setelah ibadah, yaitu untuk bisa melaksanakan bentuk ibadah yang lain dan bisa konsisten menjalankannya, sampai ajal datang.

Ibnul Qayyim juga menyebutkan bahwa ungkapan lain dari isti'anah adalah rasa tawakkal. Begitu pentingnya ibadah dan isti'anah (tawakal) ini, sehingga beberapa kali Allah Swt menyebutkannya secara bersamaan. Diantaranya adalah firman Allah Swt sebagai berikut: "Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka ibadahilah Dia dan bertakwalah kepadanya." (QS. Huud: 123)

“Ya Robb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (Al-Mumtahanah: 4)

“Dialah Rabbku tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (QS. Ar-Ro'du: 30)

Dalam beribadah dan beristi'anah, manusia terbagi menjadi empat golongan. Golongan yang paling afdal yaitu ahli ibadah sekaligus ahli isti'anah. Bagi kelompok ini ibadah kepada Allah Swt adalah terminal akhir mereka. Untuk itu, mereka meminta pertolongan kepada Allah Swt agar membantu mereka terhadap hal ini dan memberikan taufik untuk melaksanakannya. Oleh sebab itu, termasuk doa yang afdal untuk diucapkan adalah doa agar diberi pertolongan (i'anah) dalam beribadah kepada-Nya.

Rasulullah mengajarkan sebuah doa kepada Mua'adz bin Jabal r.a. beliau bersabda yang artinya, “Wahai Mu'adz demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Dan janganlah kamu lupa setiap penghujung shalat untuk membaca, Ya Allah, berikanlah i'anah kepadaku untuk berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR Abu Dawud, Ahmad dan al-Hakim).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Aku perhatikan seluruh doa, ternyata yang paling bermanfaat adalah doa meminta pertolongan untuk mendapatkan ridho-Nya. Kemudian aku melihat dalam surat al-Fatihah, ternyata ia adalah iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.”

Kelompok kedua adalah mereka yang berpaling dari ibadah dan isti'anah. Kalaupun ada diantara mereka yang beribadah atau beristi'anah, hal itu dilakukan hanyalah dalam rangka memenuhi syahwat atau kebutuhannya. Bukan atas dasar ridho kepada Allah Swt atau memenuhi hak-hakNya. Dan, Allah banyak mengabulkan segala permintaan hamba-hambaNya termasuk iblis. Namun, karena permintaannya bukan untuk menggapai ridho Allah, maka pengabulan dan pemberian Allah ini hanya akan menambah kesengsaraan dan jauhnya dirinya dari Allah Swt. Dan demikianlah yang akan terjadi, kepada semua saja yang meminta pertolongan kepada Allah Swt untuk suatu perkara yang bukan dalam rangka menggapai keridhoan-Nya.

Seorang yang berakal, pastilah ia memperhatikan dirinya dan orang lain. Sudah pasti, ia mengerti bahwa dikabulkannya suatu permintaan oleh Allah tidaklah selalu bermakna bahwa Allah memuliakannya. Suatu saat, seorang hamba meminta sesuatu yang ia butuhkan kepada Allah, lalu Dia memenuhinya. Padahal, disanalah letak kehancurannya. Betapa banyak orang-orang yang menjadi bakhil setelah dilapangkan rizki-Nya. Betapa banyak orang-orang yang menjadi takabbur dan zalim setelah diberi kekuasaan. Sementara di saat yang lain, Allah Swt tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya. Bukan apa-apa, hal ini justru karena Allah SWT menghendaki kemuliaan baginya. Allah tidak memberi dalam rangka menjaga dan memeliharanya dan bukan karena bakhil. Namun sayang sekali, orang-orang yang bodoh malah berburuk sangka, merasa dihinakan oleh Allah Swt.

Allah Swt berfirman yang artinya, “Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata, Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 16)

Allah Swt menyangkal pendapat orang yang memastikan bahwa lapangnya rezeki merupakan ikrom (pemuliaan) dari-Nya, dan kefakiran adalah ihanah (penghinaan). Allah Swt menjelaskan bahwa ikram dan ihanah tidaklah didasarkan kepada banyaknya harta, lapangnya rezeki atau kefakiran. Terkadang, Allah Swt melapangkan rezeki bagi orang kafir dan sebaliknya tidak memberikannya kepada orang mukmin. Tentu, itu bukanlah suatu kemuliaan bagi orang kafir dan kehinaan bagi orang mukmin.

Sesungguhnya Allah Swt hanya memuliakan orang-orang yang memuliakan-Nya dengan mengenal-Nya, cinta kepada-Nya dan mentaati-Nya. Dan, Allah Swt hanya menghinakan orang-orang yang menghinakan-Nya, yakni orang-orang yang berpaling dari-Nya atau bermaksiat kepada-Nya.
Sesungguhnya kemuliaan yang hakiki berporos kepada intensitas seseorang dalam mengejawantahkan Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta’in (Hanya kepada-Mulah kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan).

Kelompok yang ketiga adalah golongan yang hanya beribadah, tanpa meminta pertolongan (isti'anah) kepada Allah Swt. Mereka beranggapan bahwa ibadah yang mereka kerjakan sudah cukup untuk dijadikan bekal safar ke negeri akhirat. Mereka lupa bahwa ada dua hal yang pasti, su’ul khaatimah dan khusnul khatimah. Tanpa pertolongan dan rahmat dari Allah Swt, seorang muslim bisa saja (bahkan pasti) mengalami futur (stagnasi/mandeg) dalam beramal, lalu berkelanjutan dan berakhir dengan kekafiran yang mengekalkannya tinggal di neraka. Na'udzubillaahi min dzaalik.

Kelompok yang ketiga ini masih termasuk golongan kaum muslimin, karena ibadah mereka, hanya saja ada nila kurang. Duhai, andaikan mereka mau beristi'anah dan bertawakkal.

Kelompok keempat adalah mereka yang mengerti betul bahwa hanya Allah yang bisa mendatangkan dan mencegah manfaat atau madharat (bahaya). Mereka juga tahu bahwa apa saja yang menjadi kehendak-Nya pasti terjadi. Namun demikian, mereka tidak mau menghiasi diri dengan hal-hal yang dicintai dan diridhoi Allah Swt. Kalaupun mereka bertawakal dan beristi'anah, hal itu mereka lakukan sebatas memenuh syahwat dan ambisinya.

Satu hal yang harus kita fahami bahwa kekuasan, pangkat, pengaruh dan harta tidaklah Allah khususkan bagi orang-orang yang shaleh saja. orang-orang faajir atau maksiat pun mendapat bagian. Tetapi sekali lagi, itu bukanlah ukuran untuk dijadikan jaminan menjadi wali atau kekasih Allah Swt.
Marilah kita berdoa semoga Allah menjadikan kita orang yang selain ahli ibadah juga ahli isti'anah kepada-Nya. Amin.

Diadaptasi dari Tahdziib Madaarijus Saalikiin Ibnu Qoyyim, Abdul Mun'im bin Sholih al-Aliy al-'Izz