Loading...

14 January 2010

FatahKun

Islam Menjawab Tantangan Dakwah Global

Oleh Dudung Abdul Rohman

Dinamika kehidupan umat manusia di dunia semakin ke sini semakin kompleks. Perubahan demi perubahan terus bergulir dengan cepat seakan tiada henti. Sekarang ini tarap kehidupan manusia sudah mencapai kemajuan yang spektakuler akibat revolusi teknologi informasi dan komunikasi. Jelas hal ini berpengaruh sangat signifikan terhadap cara pandang dan pola keagamaan masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Kalau dulu pada waktu sore hari atau sehabis Maghrib anak-anak muda menghabiskan waktu di masjid-masjid dan surau-surau untuk belajar dasar-dasar ilmu keislaman. Sekarang suasana agamis ini sudah jarang ditemukan lagi, kecuali mereka berjubel di warnet-warnet dan pusat-pusat perbelanjaan. Inilah di antara fenomena kehidupan global yang melanda umat manusia dewasa ini.

Jelas ini menjadi tantangan dakwah tersendiri dan dirasa cukup berat. Sebagai agama dakwah yang sangat peduli terhadap perkembangan zaman, Islam memberikan respons terhadap segala perubahan dan perkembangan yang terjadi. Bukankah Islam itu agama yang shalihun li kulli zaman wal makan, senantiasa relevan dengan situasi dan kondisi bagaimanapun. Inilah di antara nilai universalitas dan fleksibilitas ajaran Islam yang selalu merespons perkembangan kehidupan. Dalam hal ini, kepentingan dakwah sebagamana dikatakan Marwah Daud Ibrahim, sebagai faktor pengimbang, pengarah dan penentu segala aktivitas kehidupan. Artinya, dengan dakwah dapat menyadarkan manusia untuk menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrawinya. Bahkan dakwah dapat selalu mengawal dan mengarahkan kehidupan manusia menuju keharmonisan kehidupan. Juga dakwah dapat menjadi penentu arah dan tujuan kehidupan manusia yang tidak hanya berkhidmat pada keduniaan juga mesti menghambakan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian, segala kemajuan yang dicapai oleh umat manusia dapat dijadikan media dan sarana dakwah untuk lebih meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan agama Islam.

Segala kemajuan yang ada hanyalah gejala lahiriyah yang muncul ke permukaan akibat nilai dan keyakinan yang dihayati. Kalau diibaratkan, bagaikan pohon besar yang mengeluarkan buah dan ranting yang lebat, sementara akarnya ada di dalam tanah. Maka yang menjadi sasaran dakwah itu bukan gejala lahiriyahnya tetapi akarnya. Dalam hal ini, dakwah islam berusaha memurnikan dan mengajarkan nilai-nilai baik yang harus menjadi pegangan dalam kehidupan. Kalau dalam proses dakwah dikenal istilah tilawah (membacakan), tazkiyah (membersihkan) dan ta’lim (mengajarkan) untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kegelapan menuju cahaya Islam yang mencerahkan dan terang benderang. Allah SWT berfirman,

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah [62]:2).

Inilah proses dan tahapan dakwah yang harus dilalui dalam rangka membawa umat manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan tantangan dakwah global yang mesti dihadapi dan dicarikan solusinya adalah berakar pada tiga permasalahan berikut ini:

Pertama, krisis ideologi. Hal ini menyangkut keyakinan dan pandangan hidup. Dewasa ini keyakinan dan pandangan hidup manusia sudah didominasi oleh ideologi materialisme, hedonisme dan sebangsanya. Yang menjadikan ukuran hidup hanya kesenangan dan kenikmatan duniawi yang sesaat. Sementara nilai-nilai agama dan keakhiratan diabaikan. Sehingga manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dengan melupakan norma-norma agama. Padahal pandangan agama Islam sudah demikian jelas dan tegas, bahwa orientasi hidup manusia adalah akhirat dengan menggunakan sarana, media dan fasiliatas dunia. Inilah tantangan dakwah terberat dewasa ini, yakni menanamkan kembali nilai-nilai Tauhid yang merupakan pangkal dari segala aspek kehidupan.

Kedua, krisis moral. Saat ini yang namanya perilaku manusia sudah banyak yang menyimpang dari norma-norma agama dan susila. Demi meraih kesenangan duniawi manusia rela melacurkan dirinya dengan melakukan perbuatan-perbuatan nista dan dosa. Juga kepedulian antar sesama untuk saling membantu dan menolong sudah mulai terkikis. Segala perbuatan dihitung dengan pamrih materi tanpa adanya kepedulian untuk saling mengasihi dan menolong antar sesama. Inilah krisis moral yang melanda umat manusia sekarang ini. Padahal Islam sangat menekankan kepada umatnya untuk senantiasa berbuat baik kepada siapapun termasuk pada lingkungan sekitar. Karena Allah SWT telah menganugerahkan berbagai macam nikmat dan fasilitas kehidupan. Sehingga di antara bentuk syukurnya adalah meratakan dan menyebarkan kebaikan dan kasih sayang kepada sebesar-besarnya sesama dan lingkungan sekitar.

Ketiga krisis lingkungan. Sekarang ini yang namanya musibah dan bencana terus datang melanda manusia bertubi-tubi seakan tiada henti. Seakan-akan alam tidak mau bersahabat dengan kita. Karena memang ulah tangan-tangan manusia yang merusak lingkungan dengan semena-mena. Sehingga masalah kerusakan lingkungan ini menjadi persoalan global yang menjadi perhatian dunia. Sampai-sampai keluar istilah “global worning” untuk permasalahan kerusakan lingkungan ini. Islam dari sejak awal sudah menegaskan, bahwa di antara tujuan diciptakannya manusia itu untuk menjadi khalifah di muka bumi. Khalifah di sini artinya sebagai wakil Allah untuk mengelola dan menjaga kelestarian dan keharminsan alam. Tapi kenyataannya, malah manusia mengeksploitasi sumber daya alam ini dengan semena-mena sehingga merugikan dirinya sendiri. Dasar manusia memiliki tabiat merusak sebagaimana dikhawatirkan oleh para malaikat ketika berdialog dengan Allah SWT (lihat QS. Al-Baqarah [2]:30). Maka Islam memvonis dan mengkatagorikan kejahatan besar bagi perusak lingkungan dan alam karena merugikan kehidupan umat manusia secara keseluruhan dan turun temurun.

Demikian di antara tantangan dakwah global pada abad sekarang ini. Jelas ini harus disikapi dan dan dicarikan solusi terbaik untuk mengatasinya. Islam sebagai agama yang rahmatan lil-‘alamin tentunya menawarkan alternatif solusi untuk menghadapi tantangan tersebut. Di antaranya terangkung dalam ayat berikut,

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash [28]:77).

Wallaahu A’lam Bish-Shawaab.